Senin, 26 Januari 2009
Memuji
Tapi, kritikan, celaan, gampang banget keluar banyak, terutama kalau ada suatu situasi yang menunjukkan perubahan dari sifat yang baik yang biasanya ada di diri sahabat-sahabat saya, yang munculnya tumben2an karena ga mau si sahabat ini jadi orang yang 'rusak'. Apa mungkin karena dengan sahabat, kelebihan-kelebihan sifat yang ada (pengertian, sabar, berbakat, ramah, cantik, pintar, dsb) adalah hal yang semua juga udah sama-sama ngerti, ga ada rasa ngiri kalo salah satu dapet rejeki/keberuntungan/prestasi, bukan sesuatu yang bikin terlalu amazed, dan ga banyak-banyak muji karena jatohnya malah kaya' basa-basi?
But, however, pujian itu tetep perlu untuk ngebangkitin semangat.
Jumat, 23 Januari 2009
Pearl Philosophy
Pikiran saya lagi kosong dan saya kepikiran ini.
Pearl. Mutiara. Dihasilkan sama moluska, sebagai 'respon' atas parasit yang masuk. Parasit yang masuk, bisa jadi bukan barang berharga, input yang bersifat merusak. Tapi coba deh, output yang dihasilkan sangatlah indah dan menjual ,bukan?Jauh jauh lebih berharga daripada parasit sebagai inputnya sendiri.
Saya jadi berpikir, in this kinda pearl philosophy, dalam menanggapi setiap orang yang berbuat kurang baik ke diri kita, ga harus kita jahatin balik. Lebih baik dibalas dengan kebaikan aja. Terus, kalo nghadepin hal-hal yang ga menyenangkan lainnya, suatu musibah, anggep aja itu dibalik semua itu ada hikmah,hal-hal positif lain, kebahagiaan lain yang menunggu.(La Tahzan by 'Aidh al-Qarni)
Dan saya kagum dan terinspirasi sama seorang yang menurut saya 'megang' hal ini,
Beberapa waktu yang lalu, saya rapat sama Mbak Kadept saya, rapat terakhir. Jadi rencananya, kita mau beres-beres ruangan BEM di akhir kepengurusan nih. Terus ada pembicaraan,
Staff A, "Kenapa sih mbak, yah biarin ajalah kepengurusan berikutnya yang ngeberesin ruangan ini, toh bukannya dulu kita juga gitu yah?"
Mbak Kadept,"Yah kita jangan ninggalin yang buruk-buruk lah ke orang lain,walaupun orang lain ninggalin yang buruk ke kita."
Plus,mba Kadept saya ini sering banget nasehatin saya,ngingetin saya buat rajin puasa, rajin berdoa sama Allah, setiap UAS dan UTS nyemangatin saya terus, padahal saya sebagai staff sadar banget kalo saya ini suka nyampah.
Ckckckck.....
Senin, 19 Januari 2009
Resolusi
Agak terlambat sih, tapi yah daripada tidak sama sekali.
Tahun 2009 intinya harus jadi tahun berbenah diri, berbenah hati, dan berbenah sikap untuk saya.
Jauhi prasangka buruk dan jaga kata-kata yang (akan) terucap.
Minggu, 18 Januari 2009
Menasihati Orang Lain
Kadang, Bukannya saya ga peduli,
Tapi Saya paling ngga bisa. Terutama untuk orang-orang yang saya anggap lebih tua dan dewasa daripada saya. Takut dianggap sok dewasa, takut dianggap sok nasehatin, sok tahu, sok ngerti.
Apalagi soal yang namanya nilai kehidupan. Ngerti apa sih saya? Saya hidup juga masih banyak yang mesti dibenerin, ntar kalo saya nasehatin, malah balik ke diri saya lagi donk? Saya pikir ya beberapa orang udah tahu banget apa yang harus mereka lakukan, saya juga liat mereka udah punya motivasi dan semangat dengan sendirinya, dan saya takut kalo ucapan saya malah terkesan basa-basi aja atau kebanyakan ngomong?.
Pada akhirnya saya hanya bisa berdoa dalam hati untuk mereka, mengingatkan sebisa saya, membantu kalau mereka perlu, tanpa nasehat panjang lebar apapun...karena saya juga ga punya apa-apa buat dikeluarin sebagai nasihat...nasihat kehidupan.
Sabtu, 17 Januari 2009
Prinsip
Setiap orang punya nilai-nilai dan pandangan tersendiri terhadap suatu hal. Nilai-nilai itu bisa didapat baik dari nasehat, baca buku, berdasarkan pengalaman orang lain atau pengalaman sendiri. Tau sesuatu itu baik,ga baik, ambil hikmahnya, itu yang dijadiin nilai. Nilai yang paling kuat tertanam dalam diri itulah prinsip.
Tapi, Apa sih arti prinsip dan nilai yang kita pegang jadinya, kalau dalam keadaan paling terdesak,prinsip ini dilepas, semua hal yang berkaitan juga diabaikan, tidak satu pun tersisa?
Dalam Keadaan terdesak, bukan berarti benar-benar ga ada kemungkinan buat bertahan,kan?
dan bukankah kalau dilanggar, prinsip pun tinggallah sebatas kenangan indah yang pernah mampir di lidah aja kalo kaya gitu?
Mungkin jadi oportunis lebih baik? Lebih adaptable?
Atau memberlakukan prinsip, yang mana kaya operator seluler,prinsipnya sih tarif murah tapi “Syarat dan Ketentuan berlaku”?
Daripada jadi orang yang sok berprinsip?
Atau, mungkin dari suatu cobaan, akan muncul prinsip baru lainnya?
Yang lebih kuat? lebih oke?
Mungkin..... dan seberapa yakin nantinya prinsip baru itu ga akan dilanggar lagi?
Melanggar prinsip yang dipegang bukankah sama dengan menjilat ludah sendiri kah,seperti orang Jawa bilang?mau berapa kali “menjilat ludah sendiri” ,melanggar prinsip?
Atau setelah kita sadar telah melanggar prinsip yang pernah kita pegang, yang mana prinsip itu pada dasarnya baik, terus kita balik lagi ke prinsip itu?
Emangnya salah kalo istilahnya sadar telah ‘menjilat ludah sendiri’ kalo emang terbukti salah,mengakui, terus minta maaf?
Atau..ya kalo punya prinsip itu diem-diem aja, ga usah dibilang sama orang lain, jadi kalo tau diri melanggar, yang tahu diri sendiri, malu ya sama diri sendiri.
Atau, sekedar bermain di grey area aja dimana ga ada istilah hitam dan putih, sesuatu dijudge baik dan buruk, mencari jalan tengah, lebih .... safe?
Tapi,pada akhirnya,people put respect and trust on those who get and keep standing up for their own value until his/her last dying breath. Once someone betray their own value to others, it's gonna ruin people's respect and trust.
